Langsung ke konten utama

Battle Game Sambung Ayat Untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak


Assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua. Halo pengunjung Coretan Pengajar, apa kabar ? Masih bernafas ? Sudah makan hari ini ? Jaga kesehatan ya!
            Jadi, hari ini saya ingin sedikit berbagi mengenai pengalamanku selama mengajar. Semoga kita bisa membuka ruang diskusi sehingga terjalin komunikasi dua arah ya.
            Battle gaeme itu apasih ? Ya, sebenarnya tidak ada definisi baku mengenai battle game,
hanya saja saya menamai permainan ini sebagai battle game karena sesuai namanya, di sini santri akan dibagi menjadi dua kelompok, dimana masing-masing kelompok harus menetapkan nama kelompok dan jargon kelompok mereka masing-masing. Setiap saya memanggil nama kelompok mereka, maka mereka harus meneriakkan jargon mereka dengan kencang dan semangat, ketika ada salah satu anggota kelompok ada yang tida ikut meneriakkan jargon, maka saya akan meminta mereka untuk meneriakkan jargon hingga seluruh anggota kelompok ikut berteriak.
            Lantas bagaimana jika permainan ini digabung dengan metode sambung ayat ? Ya, mudah saja, saya akan memulai dari salah satu kelompok untuk mulai membaca surat dari Al-Quran yang telah kami sepakati bersama, kemudian kelompok selanjutnya diminta untuk melanjutkan ayat yang sudah dibaca kelompok sebelumnya. Permainan akan terus berlanjut hingga ayat terakhir dibacakan, kelompok yang seluruh anggotanya kompak melafalkan ayat dengan lancar dan kompak akan memenangkan permainan ini.
            Awalnya, saya hanya menggunakan metode ini untuk mengurangi kebosanan di kelas, ya karena tidak hanya santri yang bosan ketika harus belajar di kelas, namun saya sebagai fasilitator seringkali  mengantuk. Namun, ternyata hal ini dan mungkin beberapa faktor lain berdampak pada perilaku anak-anak di kelas, apa itu ?
            Ya, kemampuan sosial mereka ! Kenapa begitu ? Saya membandingkan perilaku mereka sejak bulan Agustus, pertama kali saya memasuki kelas, bertemu dan mengajar mereka. Di awal pertemuan dulu, seringkali dari mereka ‘seakan’ membuat kelompok-kelompok kecil. Dari 7 siswa saya yang aktif masuk, mereka seringkali bergerombol 2 atau 3 orang, tidak saling berbaur satu sama lain. Namun, setelah dilakukan permainan ini, mereka jadi sering bermain bersama, saling menegur, saling mengingatkan, bahkan tanpa saya minta beberapa kali mereka saling mengajari temannya untuk menghafal.
            Alhamdulillah ala kulli hal, tiada yang bisa kuperbuat kecuali dengan izin Allah. Beberapa metode yang diterapkan di kelas mungkin akan saya bagikan dilain kesempatan. Ya, mari kita saling bercerita, melepas penat dalam dada, mencari solusi dan membuka ruang diskusi. Selamat akhir pekan, selamat melepas penat usai satu minggu berjuang. Jangan lupa untuk tetap bernafas.

Sumber gambar : https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwisq4X_lbrlAhVoH7cAHSd2BKQQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fwww.soundvision.com%2Farticle%2Fraising-muslim-children-in-the-public-schools-what-parents-need-to-know&psig=AOvVaw31IS4BHs4vyk3CmrsoShu-&ust=1572187759965014

Komentar

Top Up

Rekonsiliasi Santri

Jumat, 25 Oktober 2019             “ Ustadzah, Ray menumpahkan tinta bolpoin !”             “ Ustadzah, kotak pensilku warna hitam gara-gara Ray !”             “ Ustadzah, tikar puzzle nya jadi hitam !”             Teriakan-teriakan itu seketika menghentikan aktivitasku menyimak hafalan salah satu muridku, aku segera berbegas ke tempat kejadian, kupandang tubuh mungil itu hendak menangis karena perilaku temannya yang menghakimi. Satu tinta bolpoin, tintanya meluber ke beberapa tempat, kuhampiri anak laki-laki berusia 3 tahun yang mengenakan kopiah putih itu, beberapa menit kemudian kupandang tegas teman-temannya yang menghakimi, dengan nada tinggi aku berusaha memberi pemahaman.

Permainan Gejlek Untuk Meingkatkan Fokus dan Konsentrasi Anak Saat Talaqi Dalam Menghafal Al Quran

            Assalamualaikum, selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua. Selamat datang di web Coretan Pengajar. Apa kabar teman-teman ? Semoga selalu diberi kesehatan, kelancaran dala beraktivitas dan dalam kondisi bahagia. Malam ini aku ingin menceritakan satu pengalamanku yang sebenarnya ingin kutulis dengan penuisan ilmiah, namun aku masih memulai dengan runtutan metode yang tepat. Jadi, izinkan aku untuk menulis dengan gaya bahasa santai, dan dengan sedikit tambahan teori psikologi.