Anak-anak yang mulai menghafal Al-Quran
sejak dini banyak yang memulai hafalan dengan masuk ke beberapa lembaga khusus
menghafal Al-Quran, mulai dari pondok pesantren hingga rumah tahfidz balita. Di
rumah tahfidz balita sendiri anak-anak dikelompokkan menjadi beberapa kelas
sesuai level. Untuk level 1 khusus anak-anak yang menghafal juz 30, untuk level
2 khusus juz 29 dan level 3 untuk juz 1,2,3,4. Anak-anak level satu, rata-rata
berusia 3 – 9 tahun. Metode yang sering digunakan dalam menghafal Al-Quran di
rumah tahfidz balita menggunakan metode tabarak, dimana anak akan melakukan
imitasi (talaqi) dari syeikh Kamil melalui televisi.
Anak-anak dengan keunikan mereka,
memiliki daya tarik sendiri bagi penulis dan beberapa orang untuk memahami,
mengobservasi, berkomunikasi, mengubah perilaku dengan memberi konseling higga
intervensi lainnya. Menurut teori kognitif Piaget, anak-anak berusia 2 – 7
tahun berada pada tahap praoperasional yang memiliki cara berpikir terpusat dan
egosentris, sedangkan anak berusia 7 -
11 tahun berada pada tahap operasional
konkret yang pencapaian utama mereka adalah memiliki kemampuan berpikir secara
logis. Sedangkan menurut teori Erikson jika dipandang dari sudut sosioemosional
anak-anak yang berusia 3-5 tahun berada masa fase inisiatif vs rasa bersalah.
Dimana pada fase ini, anak-anak mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung, mereka
yang berhasil pada tahap ini akan menjadi anak yang berani berinisiatif dan
bertanggungjawab, sedangkan mereka yang gagal pada tahap ini akan merasa tidak
percaya diri. Sedangkan anak-anak usia 6 tahun hingga masa pubertas masuk pada
fase tekun vs rendah diri, dimana pada fase ini anak mulai bangga akan
keberhasilan mereka.
Karakter anak-anak di dalam kelas
yang beragam, dinamis dan sangat heterogen membuat pengajar di kelas harus
memiliki beberapa metode khusus dan berbeda untuk masing-masing anak. Anak-anak
yang berusia 4 – 5 tahun cenderung sangat aktif, egosentris menyukai dunia
bermain dan banyak bergerak. Anak-anak dengan rentang usia 6 – 9 tahun
cenderung menyukai persaingan, namun lebih sedikit bergerak. Beberapa anak di
kelas juga lebih susah untuk fokus di kelas mengingat banyak sekali distraksi
yang membuat anak-anak seringkali menoleh, dan bola mata mereka seringkali ke
kanan dan ke kiri saat proses pembelajaran Al-Quran dimulai. Beberapa anak yang
lain yang belum tercukupi kebutuhan motorik kasar mereka cenderung bergerak,
lari-lari mengelilingi kelas.
Metode yang mulai penulis terapkan
untuk meningkatkan fokus anak-anak dan memanfaatkan gerak motorik kasar
anak-anak agar tidak bosan di kelas adalah dengan menerapkan play therapy menggunakan permainan
gejlek. ermain merupakan kegiatan yang menyenangkan
dan disukai oleh banyak orang terutama pada anak-anak, berdasarkan penelitian
yang pernah dilakukannya pada tahun 1920 mengungkapkan bahwa “play could
voice the inarticulate” yaitu bermain dapat menyuarakan atau mengungkapkan
hal-hal yang terpendam atau tidak bisa diungkapkan secara langsung oleh anak
(Choen, 1993). White (dalam Landerht, 2001) mengatakan bahwa dalam permainan
anak-anak membangun kepercayaan diri mereka terhadap lingkungan sekitar. Selain
itu Freud (dalam Djiwandono, 2005) menggunakan permainan sebagai suatu cara
untuk mempelajari anak dan mainan untuk menarik anak agar mau mengikuti proses
terapi. Choen (1993) menjelaskan play therapy sebagai artifak dari
bermain yang digunakan untuk membantu anak-anak untuk berbicara tentang hal-hal
terpendam dalam diri anak muncul permukaan. Dalam hal lebih menekankan dalam
teori relaksasi, bahwa dengan kondisi relaks anak dapat menghilangkan perasan
intimidasi dan lebih mudah untuk berbicara.
Play therapy sudah banyak digunakan di
beberapa penelitian, dalam penelitian yang dilakukan oleh Hatiningsih (2013)
dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat
diterima, yaitu play therapy dapat meingkatkan konsentrasi pada anak
ADHD. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan tingkat konsentrasi pada
situasi sesungguhnya lebih tinggi dibandingkan pada saat baseline,
walaupun tingkatan konsentrasinya lebih rendah dibandingkan setting terapi
namun keduanya sama-sama mengalami peningkatan dibandingkan pada saat baseline.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ella (2017) juga menghasilkan kesimpulan
yang serupa, bahwa play therapy dapat
meningkatkan fokus anak-anak. Selain itu riset yang dilakukan oleh (Burtch,
1999) peneliti play therapy dengan judul “The use of play atherapy
in the private clinical setting” menyatakan bahwa play therapy merupakan
metode yang paling memungkinkan untuk mengobati dan juga banyak digunakan serta
diterima dalam menangani masalah anak-anak.
Dari sini,
penulis mencoba untuk memberikan intervensi berupa permainan gejlek untuk
meningkatkan fokus menghafal Al-Quran pada anak. Perilaku anak yang sering
menoleh ke kanan dan ke kiri, dan sering bergerak berusahaa dimanfaatkan
penulis untuk bermain gejlek. Tata cara permainan ini adalah disajikan tikar puzzle warna-warni yang di susun secara
horizontal dan vertikal, kemudiana anak akan melompat menyesuaikan bentuk tikar
puzzle hingga mencapai garis finish. Setiap lompatan, anak diharuskan
untuk mengulang satu ayat yang dihafalkan sebanyak 3 – 5 kali hingga anak
benar-benar lancar.
Permaianan ini
berhasil meningkatkan fokus konsetrasi anak sehingga anak lebih mudah dalam
menghafal ayat Al-Quran. Tidak hanya itu, ekspresi anak yang cenderung tegang
saat talaqi dalam kondisi tenang, berubah menjadi ekspersi senang karena kesan
permainan yang membuat anak-anak lebih rileks dalam menghafal ayat Al-Quran.
Sumber
:
Burtch, J. J. 1999. The use of play therapy in the private
clinical setting: CounselingMental Health. A Research Paper of American
Psychological Association (APA), 42.
Cohen, D. (1993). The development of play (2nd ed). Canada:
UDA. Routledge. Great Britain.
Ella, Kholilah. 2017. Terapi Bermain Dengan Cbpt (Cognitive
Behavior Play Therapy) Dalam Meningkatkan Konsentrasi Pada Anak ADHD. (15), 41 – 50.
Landreth, G. L. 2001. Innovations in Play therapy: Issues,
process, and special
populations. USA: Burnner-Routletge.
populations. USA: Burnner-Routletge.
Landreth, G. L. (2002). Play therapy: the art of the
relationship. Second Edition. New York: Brunner-Routledge.
Hatiningsih, Nuligar. 2013. Play Therapy Untuk
Meningkatkan Konsentrasi Pada
Anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). 01, (02), 234-324.
Anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). 01, (02), 234-324.
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwi1wdL0gLXlAhWBro8KHbEiBygQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fmediaindonesia.com%2Fread%2Fdetail%2F123917-membentuk-karakter-lewat-permainan-tradisional&psig=AOvVaw1-wnaZeMwLsUlXUqq80LDM&ust=1572010282140721

Komentar
Posting Komentar