Langsung ke konten utama

Permainan Gejlek Untuk Meingkatkan Fokus dan Konsentrasi Anak Saat Talaqi Dalam Menghafal Al Quran



           
Assalamualaikum, selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua. Selamat datang di web Coretan Pengajar. Apa kabar teman-teman ? Semoga selalu diberi kesehatan, kelancaran dala beraktivitas dan dalam kondisi bahagia. Malam ini aku ingin menceritakan satu pengalamanku yang sebenarnya ingin kutulis dengan penuisan ilmiah, namun aku masih memulai dengan runtutan metode yang tepat. Jadi, izinkan aku untuk menulis dengan gaya bahasa santai, dan dengan sedikit tambahan teori psikologi.
Anak-anak yang mulai menghafal Al-Quran sejak dini banyak yang memulai hafalan dengan masuk ke beberapa lembaga khusus menghafal Al-Quran, mulai dari pondok pesantren hingga rumah tahfidz balita. Di rumah tahfidz balita sendiri anak-anak dikelompokkan menjadi beberapa kelas sesuai level. Untuk level 1 khusus anak-anak yang menghafal juz 30, untuk level 2 khusus juz 29 dan level 3 untuk juz 1,2,3,4. Anak-anak level satu, rata-rata berusia 3 – 9 tahun. Metode yang sering digunakan dalam menghafal Al-Quran di rumah tahfidz balita menggunakan metode tabarak, dimana anak akan melakukan imitasi (talaqi) dari syeikh Kamil melalui televisi.
            Anak-anak dengan keunikan mereka, memiliki daya tarik sendiri bagi penulis dan beberapa orang untuk memahami, mengobservasi, berkomunikasi, mengubah perilaku dengan memberi konseling higga intervensi lainnya. Menurut teori kognitif Piaget, anak-anak berusia 2 – 7 tahun berada pada tahap praoperasional yang memiliki cara berpikir terpusat dan egosentris, sedangkan anak berusia 7  - 11 tahun  berada pada tahap operasional konkret yang pencapaian utama mereka adalah memiliki kemampuan berpikir secara logis. Sedangkan menurut teori Erikson jika dipandang dari sudut sosioemosional anak-anak yang berusia 3-5 tahun berada masa fase inisiatif vs rasa bersalah. Dimana pada fase ini, anak-anak mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya  akan dunia melalui permainan langsung, mereka yang berhasil pada tahap ini akan menjadi anak yang berani berinisiatif dan bertanggungjawab, sedangkan mereka yang gagal pada tahap ini akan merasa tidak percaya diri. Sedangkan anak-anak usia 6 tahun hingga masa pubertas masuk pada fase tekun vs rendah diri, dimana pada fase ini anak mulai bangga akan keberhasilan mereka.
            Karakter anak-anak di dalam kelas yang beragam, dinamis dan sangat heterogen membuat pengajar di kelas harus memiliki beberapa metode khusus dan berbeda untuk masing-masing anak. Anak-anak yang berusia 4 – 5 tahun cenderung sangat aktif, egosentris menyukai dunia bermain dan banyak bergerak. Anak-anak dengan rentang usia 6 – 9 tahun cenderung menyukai persaingan, namun lebih sedikit bergerak. Beberapa anak di kelas juga lebih susah untuk fokus di kelas mengingat banyak sekali distraksi yang membuat anak-anak seringkali menoleh, dan bola mata mereka seringkali ke kanan dan ke kiri saat proses pembelajaran Al-Quran dimulai. Beberapa anak yang lain yang belum tercukupi kebutuhan motorik kasar mereka cenderung bergerak, lari-lari mengelilingi kelas.
            Metode yang mulai penulis terapkan untuk meningkatkan fokus anak-anak dan memanfaatkan gerak motorik kasar anak-anak agar tidak bosan di kelas adalah dengan menerapkan play therapy menggunakan permainan gejlek. ermain merupakan kegiatan yang menyenangkan dan disukai oleh banyak orang terutama pada anak-anak, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya pada tahun 1920 mengungkapkan bahwa “play could voice the inarticulate” yaitu bermain dapat menyuarakan atau mengungkapkan hal-hal yang terpendam atau tidak bisa diungkapkan secara langsung oleh anak (Choen, 1993). White (dalam Landerht, 2001) mengatakan bahwa dalam permainan anak-anak membangun kepercayaan diri mereka terhadap lingkungan sekitar. Selain itu Freud (dalam Djiwandono, 2005) menggunakan permainan sebagai suatu cara untuk mempelajari anak dan mainan untuk menarik anak agar mau mengikuti proses terapi. Choen (1993) menjelaskan play therapy sebagai artifak dari bermain yang digunakan untuk membantu anak-anak untuk berbicara tentang hal-hal terpendam dalam diri anak muncul permukaan. Dalam hal lebih menekankan dalam teori relaksasi, bahwa dengan kondisi relaks anak dapat menghilangkan perasan intimidasi dan lebih mudah untuk berbicara.
            Play therapy sudah banyak digunakan di beberapa penelitian, dalam penelitian yang dilakukan oleh Hatiningsih (2013) dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu play therapy dapat meingkatkan konsentrasi pada anak ADHD. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan tingkat konsentrasi pada situasi sesungguhnya lebih tinggi dibandingkan pada saat baseline, walaupun tingkatan konsentrasinya lebih rendah dibandingkan setting terapi namun keduanya sama-sama mengalami peningkatan dibandingkan pada saat baseline. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ella (2017) juga menghasilkan kesimpulan yang serupa, bahwa play therapy dapat meningkatkan fokus anak-anak. Selain itu riset yang dilakukan oleh (Burtch, 1999) peneliti play therapy dengan judul “The use of play atherapy in the private clinical setting” menyatakan bahwa play therapy merupakan metode yang paling memungkinkan untuk mengobati dan juga banyak digunakan serta diterima dalam menangani masalah anak-anak.
            Dari sini, penulis mencoba untuk memberikan intervensi berupa permainan gejlek untuk meningkatkan fokus menghafal Al-Quran pada anak. Perilaku anak yang sering menoleh ke kanan dan ke kiri, dan sering bergerak berusahaa dimanfaatkan penulis untuk bermain gejlek. Tata cara permainan ini adalah disajikan tikar puzzle warna-warni yang di susun secara horizontal dan vertikal, kemudiana anak akan melompat menyesuaikan bentuk tikar puzzle hingga mencapai garis finish. Setiap lompatan, anak diharuskan untuk mengulang satu ayat yang dihafalkan sebanyak 3 – 5 kali hingga anak benar-benar lancar.
            Permaianan ini berhasil meningkatkan fokus konsetrasi anak sehingga anak lebih mudah dalam menghafal ayat Al-Quran. Tidak hanya itu, ekspresi anak yang cenderung tegang saat talaqi dalam kondisi tenang, berubah menjadi ekspersi senang karena kesan permainan yang membuat anak-anak lebih rileks dalam menghafal ayat Al-Quran.

Sumber :
Burtch, J. J. 1999. The use of play therapy in the private clinical setting: CounselingMental Health. A Research Paper of American Psychological Association (APA), 42.
Cohen, D. (1993). The development of play (2nd ed). Canada: UDA. Routledge. Great Britain.
Ella, Kholilah. 2017. Terapi Bermain Dengan Cbpt (Cognitive Behavior Play Therapy) Dalam Meningkatkan Konsentrasi Pada Anak ADHD. (15), 41 – 50.
Landreth, G. L. 2001. Innovations in Play therapy: Issues, process, and special
populations. USA: Burnner-Routletge.
Landreth, G. L. (2002). Play therapy: the art of the relationship. Second Edition. New York: Brunner-Routledge.
Hatiningsih, Nuligar. 2013. Play Therapy Untuk Meningkatkan Konsentrasi Pada
Anak Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). 01, (02), 234-324.
https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=2ahUKEwi1wdL0gLXlAhWBro8KHbEiBygQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fmediaindonesia.com%2Fread%2Fdetail%2F123917-membentuk-karakter-lewat-permainan-tradisional&psig=AOvVaw1-wnaZeMwLsUlXUqq80LDM&ust=1572010282140721

Komentar

Top Up

Battle Game Sambung Ayat Untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial Anak

Assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua. Halo pengunjung Coretan Pengajar, apa kabar ? Masih bernafas ? Sudah makan hari ini ? Jaga kesehatan ya!             Jadi, hari ini saya ingin sedikit berbagi mengenai pengalamanku selama mengajar. Semoga kita bisa membuka ruang diskusi sehingga terjalin komunikasi dua arah ya.             Battle gaeme itu apasih ? Ya, sebenarnya tidak ada definisi baku mengenai battle game ,

Rekonsiliasi Santri

Jumat, 25 Oktober 2019             “ Ustadzah, Ray menumpahkan tinta bolpoin !”             “ Ustadzah, kotak pensilku warna hitam gara-gara Ray !”             “ Ustadzah, tikar puzzle nya jadi hitam !”             Teriakan-teriakan itu seketika menghentikan aktivitasku menyimak hafalan salah satu muridku, aku segera berbegas ke tempat kejadian, kupandang tubuh mungil itu hendak menangis karena perilaku temannya yang menghakimi. Satu tinta bolpoin, tintanya meluber ke beberapa tempat, kuhampiri anak laki-laki berusia 3 tahun yang mengenakan kopiah putih itu, beberapa menit kemudian kupandang tegas teman-temannya yang menghakimi, dengan nada tinggi aku berusaha memberi pemahaman.