Jumat, 25 Oktober 2019
“
Ustadzah, Ray menumpahkan tinta bolpoin !”
“
Ustadzah, kotak pensilku warna hitam gara-gara Ray !”
“
Ustadzah, tikar puzzle nya jadi hitam
!”
Teriakan-teriakan
itu seketika menghentikan aktivitasku menyimak hafalan salah satu muridku, aku
segera berbegas ke tempat kejadian, kupandang tubuh mungil itu hendak menangis
karena perilaku temannya yang menghakimi. Satu tinta bolpoin, tintanya meluber
ke beberapa tempat, kuhampiri anak laki-laki berusia 3 tahun yang mengenakan
kopiah putih itu, beberapa menit kemudian kupandang tegas teman-temannya yang
menghakimi, dengan nada tinggi aku berusaha memberi pemahaman.
“
Mba Anasya mau ketika mba berbuat salah, teman-teman mba berteriak menyalahkan
mba ? Gara-gara Mba Anasya ini tintanya tumpah ! Gara-gara mba Ansya berantakan
semua ! Mau ?” ia menggeleng cepat.
“
Mba Mair mau ketika mba berbuat salah, teman-teman mba berteriak menyalahkan
mba ? Gara-gara Mba Mair ini tintanya tumpah ! Gara-gara mba Mair berantakan
semua ! Mau ?” Mair menimpali penjelasanku dengan menggeleng pula, Ray berhenti
menangis seketika. Aku menghembuskan napas dalam.
“
Ayo semua ikut membersihkan.” Seluruh santri di ruang itu membersihkan kelas
yang terkena tinta. Beberapa mengambil tisu, air, gotong royong ikut
membersihkan kelas. Usai tinta bolpoin sedikit mengering, aku mengajak santri
di kelas untuk duduk melingkar.
“
Ayo semua duduk melingkar,” seketika mereka duduk melingkar, diam, saling
memandang.
“
Tadi siapa yang teriak-teriak menyalahkan Ray ?”
“
Anasya, Ustadzah.”
“
Ada lagi ?”
“
Mair, Naj, Ustadzah.”
“
Baiklah. Begini, kalau ada teman yang melakukan kesalahan sama kita, apa kita
lantas menyalahkannya ? Misal, ketika Mba Ansya menumpahkan air milik Mas Ray,
Mba Anasya mau disalahkan Mas Ray dan Mba Anasya mau diteriakin ‘Gara-gara
Anasya ini ! Dasar Anasya !’, mau ?”
“
Tidak ustadzah.”
“
Oke, tadi kejadiannya bagaimana ? Kenapa tinta bolpoin itu bisa meluber ?”
“
Itu ustadzah, tadi kan Ray main bolpoin, terus bolpoinnya dibuka sama Ray dan
meluber, tintanya itu di usap ke kotak pensil milik Anasya.”
“
Oh begitu, benar begitu, Mas Ray ?”
“
Iya, Ustadzah.”
“
Mas Ray punya tas ?”
“
Punya, Ustadzah.”
“
Bagaimana jika tas Mas Ray dicoret-coret ustadzah ? Mas Ray mau ?”
“
Tidak, ustadzah.”
“
Tidak mau kan ? Jadi, Mas Ray tidak boleh mengusap tinta ke barang milik orang
lain, Mas Ray berjanji tidak mengulangi lagi ?”
“
Iya, Ustadzah.”
“
Terus tadi kenapa Mba Mair ikut teriak-teriak ? Kotak Mba Mair ikut di
coret-coret ?”
“
Tidak, Ustadzah.”
“
Mba Maira mau, misalnya nih Mba Maira coret-coret tasnya Mba Anasya, terus Mas
Ray nyalahin Mba Maira. Mau ?”
“
Ngga, Ustadzah.”
“
Ngga mau kan ? Jadi, jangan suka menyalahkan orang lain dan Mas Ray jangan
mengulangi lagi coret-coret punya temannya, ya ?”
“
Iya, Ustadzah.
Ya,
catatan hari itu adalah penghujung senja panas di Kota Malang yang tak kunjung
hujan. Sebuah proses yang semoga tidak hanya mendewasakanku, membuatku lebih
sabar, namun juga mendewasa anak-anak yang usianya masih sangat belia ini.
Dalam hati kecilku paling dalam diam-diam aku berbisik, Oh Tuhan, tolong,
tolong izinkan aku, jangan sampai perkataanku membuat segores luka dibatin
mereka, meski hanya sekecil biji sawi karena aku tidak tahu apa yang akan
terjadi di masa depan nanti.
Sumber gambar : https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&ved=&url=https%3A%2F%2Fwww.truth-seeker.info%2Ffeatured%2Fchildren-in-islam%2F&psig=AOvVaw1vwWbPIj0LpL4U2f8ZoN_U&ust=1572185188963642
Komentar
Posting Komentar